Biografi Prabowo Subianto - Tokoh ini adalah calon
presiden dalam pemilu presiden Republik Indonesia 2009 dari Partai
Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA). Karena perolehan suara Partai
Gerindra kurang dari 20%, ia maju sebagai calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri.
Saat ini ia sedang bersiap untuk kembali maju sebagai calon presiden di
pemilu presiden 2014. Ia juga sering disebut sebagai seorang jendral
kontroversial. Prestasi, dan kontroversinya dimulai saat ia mendaftarkan
diri di Akademi Militer Magelang pada tahun 1970. Langsung saja berikut
sekilas tentang biografi Prabowo Subianto.
Nama lengkapnya Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo
lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951 adalah seorang mantan Danjen
Kopassus, pengusaha dan politisi. Anak dari begawan ekonomi Indonesia,
Soemitro Djojohadikusumo. Ia memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih
dan Mayrani Ekowati, dan satu orang adik, Hashim Djojohadikusumo. Saat
ini, Hashim dikenal sebagai seorang pengusaha handal, dengan bisnis di
puluhan negara termasuk Kanada, Russia dan Indonesia. Prabowo adalah
cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara
Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI. Dan jika diselusuri
lebih jauh lagi, leluhur Prabowo adalah Panglima Laskar Diponegoro
untuk wilayah Gowong (Kedu), yang bernama Raden Tumenggung Kertanegara
III. Prabowo juga terhitung sebagai salah seorang keturunan dari Adipati
Mrapat, Bupati Kadipaten Banyumas Pertama. Prabowo menikah dengan Siti
Hediati Hariyadi, anak Presiden Soeharto. Pernikahan Prabowo berakhir tidak lama setelah Soeharto
mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Dari pernikahan ini,
Prabowo dikaruniai seorang anak, Didiet Prabowo. Didiet tumbuh besar di
Boston, AS dan sekarang tinggal di Paris, Perancis sebagai seorang
desainer.
Prabowo pernah mengenyam pendidikan di Akademi Militer Magelang pada
tahun 1970 dan lulus pada tahun 1974. Tahun 1976 Prabowo dipercaya
sebagai Komandan Pleton Para Komando Grup I Komando Pasukan Sandhi Yudha
(Kopassandha) dan ditugaskan sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala
di Timor Timur. Selama karir militernya, ia berjasa dalam sebuah operasi
melawan Gerakan Papua Merdeka. Ia membebaskan 12 peneliti yang sedang
melakukan ekspedisi, 5 di antaranya adalah warga negara Indonesia.
Pada bulan Desember 1978, Kapten Prabowo memimpin pasukan Den 28
Kopassus yang ditugaskan untuk membunuh pendiri dan wakil ketua
Fretilin, yang pada saat itu juga menjabat sebagai Perdana Menteri
pertama Timor Leste, Nicolau dos Reis Lobato. Lobato tewas setelah
tertembak di perut saat bertempur di lembah Mindelo, pada tanggal 31
Desember 1978. Karena prestasi ini, Prabowo mendapatkan kenaikan
pangkat. Setelah kembali dari Timor Timur, karier militernya Prabowo
terus melejit. Pada tahun 1983, Prabowo dipercaya sebagai Wakil Komandan
Detasemen 81 Penanggulangan Teroris (Gultor) Komando Pasukan Khusus TNI
AD (Kopassus). Setelah menyelesaikan pelatihan "Special Forces Officer
Course" di Fort Benning, Amerika Serikat, Prabowo diberi tanggungjawab
sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara.
Pada tahun 1996, Komandan Kopassus Prabowo Subianto memimpin operasi
pembebasan sandera Mapenduma. Operasi ini berhasil menyelamatkan nyawa
10 dari 12 peneliti Ekspediti Lorentz '95 yang disekap oleh Organisasi
Papua Merdeka. 5 orang yang disandera adalah peneliti biologi asal
Indonesia, sedangkan 7 sandera lainnya adalah peneliti dari Inggris,
Belanda dan Jerman.
Pada tanggal 26 April 1997, Tim Nasional Indonesia ke Puncak Everest
berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia
setelah mendaki melalui jalur selatan Nepal. Tim yang terdiri dari
anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI ini
diprakarsai oleh Komandan Jendral
Kopassus, Mayor Jendral TNI Prabowo Subianto. Ekspedisi dimulai pada
tanggal 12 Maret 1997 dari Phakding, Nepal.
"Waktu itu kita mendengar bahwa Malaysia sudah mencanangkan akan
mengibarkan bendera kebangsaan mereka pada tanggal 10 Mei 1997. Saya
tidak rela bangsa Indonesia, sebagai bangsa 200 juta jiwa, harus kalah
dengan bangsa lain di kawasan kita. Karena mencapai puncak tertinggi di
dunia sudah menjadi salah satu tonggak ukuran prestasi suatu bangsa"
tulis Prabowo dalam buku 'Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan'.
Keberhasilan ekspedisi ini menjadikan Indonesia negara pertama dari
kawasan tropis, sekaligus juga negara di Asia Tenggara pertama yang
mencatat sukses menggapai puncak Everest.
Nama Prabowo sering dikaitkan dengan dugaan pelanggaran Hak Asasi
Manusia. Mulai dari tudingan bahwa dialah dalang (mastermind) dari
serangkaian aksi penculikan para aktivis penembakan mahasiswa Trisakti,
penyulut kerusuhan Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan
intrik di kalangan elite ABRI. Mulai dari tudingan adanya "pertemuan
konspirasi" di Markas Kostrad pada 14 Mei 1998, tuduhan hendak melakukan
kudeta yang dikaitkan dengan isu "pengepungan" kediaman Presiden B.J. Habibie oleh pasukan Kostrad dan Kopassus, sampai ke pembeberan sifat-sifat pribadinya.
Selain karir politik dan militernya, Prabowo juga memiliki sebuah bisnis
bersama saudaranya di Mangkajang, Kalimantan Timur. Ia kini tercatat
memimpin 27 perusahaan di Indonesia dan luar negeri. Perusahaan yang
dipimpinnya meliputi Nusantara Energy (perusahaan minyak, gas alam dan
batu bara), Tidar Kerinci Agung (minyak kelapa), dan Jaladri Nusantara
(industri perikanan).
Karier Prabowo sebagai pengusaha dimulai dengan membeli Kiani Kertas,
perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang,
Kalimantan Timur. Sebelumnya, Kiani Kertas dimiliki oleh Bob Hasan,
pengusaha yang dekat dengan Presiden Suharto. Prabowo membeli Kiani Kertas menggunakan pinjaman senilai Rp. 1,8 triliun dari Bank Mandiri.
Selain mengelola Kiani Kertas, yang namanya diganti oleh Prabowo menjadi
Kertas Nusantara, kelompok perusahaan Nusantara Group yang dimiliki
oleh Prabowo juga menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri.
Usaha-usaha yang dimiliki oleh Prabowo bergerak di bidang perkebunan,
tambang, kelapa sawit, dan batu bara.
Banyak kalangan menilai, Prabowo cukup sukses dalam berusaha. Pada
Pilpres 2009, Prabowo ialah cawapres terkaya, dengan total asset sebesar
Rp 1,579 Triliun dan US$ 7,57 juta, termasuk 84 ekor kuda istimewa yang
sebagian harganya mencapai 3 Milyar per ekor serta sejumlah mobil mewah
seperti BMW 750Li dan Mercedes Benz E300. Kekayaannya ini besarnya
berlipat 160 kali dari kekayaan yang dia laporkan pada tahun 2003. Kala
itu ia hanya melaporkan kekayaan sebesar 10,153 Milyar.
Prabowo juga mendirikan beberapa organisasi masyarakat seperti Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia, Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Indonesia,
Ikatan Pencak Silat Indonesia.
Pada tanggal 17 Juni 2009, Prabowo dinyatakan sebagai anggota marga
Lumban Tobing. Selain Prabowo, adik kandung Prabowo, Hashim
Djojohadikusumo juga diterima sebagai anggota marga tersebut.
Penganugerahan marga tersebut difasilitasi oleh Persatuan Punguan Siraja
Lumban Tobing (PPSLB) dan berlangsung di Danau Toba Convention Center,
Medan.
Pada tanggal 28 Desember 2011, Prabowo menerima gelar adat Tongkonan
dari masyarakat adat desa Siguntu, Rantepao, Toraja Utara. Pemberian
gelar adat yang dibarengi dengan pesta duka Rambu Solo disaksikan oleh
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin
Nu`mang, Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayjen Muhammad Nizam, Bupati
Tanah Toraja Theofillus Allorerung, Bupati Toraja Utara Frederik Batti
Sorring beserta ribuan warga setempat.
Referensi :
http://profil.merdeka.com/indonesia/p/prabowo-subianto-djojohadikusumo/
http://id.wikipedia.org/wiki/Prabowo_Subianto
http://www.kolombiografi.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar